TAPANULI SELATAN — Senyum Yanti (45) di tengah hamparan sawahnya yang dulu hijau kini hanya menyisakan kekhawatiran. Perempuan asal Desa Bange, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, ini harus berjuang ekstra untuk menghidupi kelima anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar hingga menengah atas setelah banjir bandang meluluhlantakkan lahan pertaniannya.
Sebelum bencana datang, lahan seluas 0,5 hektare itu mampu menghasilkan sekitar 3,5 ton gabah kering setiap musim panen. Dengan harga gabah di kisaran Rp7.000 per kilogram, pendapatan Yanti bisa mencapai Rp24,5 juta sekali panen. Kini, dari total lahannya, hanya sekitar 0,1 hektare yang masih bisa ditanami.
"Setelah banjir, sawah kami tinggal sedikit. Banyak yang tertutup pasir dan lumpur sehingga tidak bisa lagi ditanami seperti dulu," kata Yanti kepada Antara.
Dengan luas lahan yang menyusut drastis, hasil panen yang diperoleh keluarga Yanti kini lebih banyak dihabiskan untuk kebutuhan pangan sehari-hari. Kondisi ini membuat cita-cita menyekolahkan anak-anak hingga jenjang perguruan tinggi semakin berat untuk diwujudkan.
Bagi Yanti, sawah bukan sekadar lahan garapan. Ia adalah sumber kehidupan yang menopang pendidikan dan masa depan kelima anaknya.
Tak ingin menyerah pada keadaan, Yanti dan suaminya mulai mencari sumber penghasilan alternatif. Mereka membuka lahan baru untuk ditanami palawija dan tanaman hortikultura sebagai jalan keluar sementara.
Langkah ini diambil karena lahan sawah yang tertimbun material banjir dinilai belum memungkinkan untuk kembali ditanami padi dalam waktu dekat. Butuh waktu dan upaya besar untuk memulihkan kesuburan tanah yang terkubur lumpur dan bebatuan.
Kisah Yanti hanyalah satu dari sekian banyak petani di wilayah Kecamatan Batang Angkola yang terdampak. Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Batu Godang Sayur Matinggi, Takdir Ali Syabana, membenarkan bahwa kondisi serupa juga dialami oleh petani di desa-desa tetangga.
"Masih banyak petani lain yang mengalami kondisi serupa, seperti di Desa Tolang Jae, Tolang Julu dan Lumban Huayan," ungkap Takdir kepada Antara.
Menurutnya, sejumlah areal persawahan di wilayah tersebut masih tertutup material lumpur, pasir, dan bebatuan yang terbawa arus banjir bandang. Hal ini membuat sebagian besar lahan belum dapat diusahakan kembali untuk tanaman padi.
Di tengah keterpurukan, Yanti dan petani lainnya masih menyimpan harapan. Mereka mendesak adanya perhatian serius dari pemerintah, khususnya dalam upaya pemulihan lahan pertanian yang rusak. Pembersihan sedimentasi yang menutup areal persawahan dinilai menjadi kunci utama agar produktivitas pertanian bisa pulih kembali.
Tanpa adanya intervensi dari pemerintah daerah, para petani akan semakin sulit untuk mengembalikan mata pencaharian mereka. Pemulihan lahan bukan sekadar soal mengembalikan fungsi sawah, tetapi juga mengembalikan sumber penghidupan dan masa depan keluarga-keluarga yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian.