SUMATERA UTARA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melemah pada perdagangan Kamis (24/9/2026) dengan support di kisaran 6.320-6.340. Proyeksi koreksi ini muncul setelah IHSG ditutup naik 1,56 persen ke 6.374,91 pada perdagangan sebelumnya, di tengah net sell asing Rp468 miliar.
Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman menyatakan IHSG berpeluang kembali terkoreksi untuk menguji level support di area 6.320-6.340. Adapun resistance diproyeksi berada di rentang 6.420-6.440.
Proyeksi tersebut disusun setelah laju IHSG pada sesi sebelumnya ditopang penguatan 1,56 persen. Meski indeks berakhir di zona hijau, aliran dana asing justru keluar dari pasar saham domestik.
Net Sell Asing Capai Rp468 Miliar
Bursa mencatat net sell asing sebesar Rp468 miliar pada perdagangan terakhir. Lima saham yang paling banyak dilepas investor asing adalah BBRI, BMRI, TLKM, ISAT, dan ADRO.
Deretan emiten tersebut mayoritas berasal dari sektor perbankan dan telekomunikasi, dua sektor dengan bobot besar di indeks. Tekanan jual di saham-saham berkapitalisasi jumbo itu menjadi faktor yang membatasi ruang penguatan IHSG.
Enam Saham Pilihan untuk Dicermati
Di tengah proyeksi koreksi, Fanny menyodorkan enam saham yang dapat dicermati investor. Daftar tersebut mencakup MEDC, ADRO, TAPG, KPIG, BIPI, dan CUAN.
Pilihan itu menyebar di sektor energi dan komoditas, dengan ADRO muncul di dua daftar sekaligus: sebagai saham yang paling banyak dijual asing dan sebagai salah satu rekomendasi. Posisi ganda semacam ini biasa terjadi ketika analis menilai tekanan jual justru membuka peluang masuk di harga lebih rendah.
Level Support dan Resistance Jadi Acuan
Bagi pelaku pasar, rentang 6.320-6.340 menjadi zona yang perlu dicermati. Jika level support bertahan, IHSG berpeluang berbalik menguji resistance 6.420-6.440.
Sebaliknya, penembusan di bawah area support membuka ruang koreksi lebih dalam. Investor yang ingin masuk disarankan mencermati volume transaksi dan arah aliran dana asing sebelum mengambil posisi.
Pergerakan IHSG hari ini juga akan dipengaruhi sentimen global dan respons pasar terhadap data ekonomi terbaru. Saham-saham di sektor energi dan komoditas tetap menjadi perhatian seiring fluktuasi harga komoditas dunia.