SUMATERA UTARA — Konfirmasi itu disampaikan langsung oleh Vice Chairman Market Development Gaikindo, Jongkie D. Sugiarto, saat ditemui di sela perhelatan GIIAS 2026, Rabu (05/08). "Pabrik BYD sudah jalan, sudah mulai produksi," ujarnya. Meski begitu, Jongkie mengaku belum sempat mengunjungi langsung fasilitas produksi yang berada di kawasan industri Subang tersebut. "Saya sih belum ke sana (pabrik BYD), belum lihat. Tetapi dengarnya seperti itu," tegasnya.
Dari Impor Utuh ke Perakitan Lokal: Strategi BYD di Indonesia
Kabar ini menjadi titik balik bagi strategi BYD di Tanah Air. Sebelumnya, seluruh lini kendaraan seperti Dolphin, Seal, Atto 3, Atto 1, BYD M6, dan BYD M6 DM dijual dengan skema impor utuh atau CBU. Pada periode 2024-2025, harga kompetitif yang ditawarkan masih dimungkinkan berkat adanya insentif impor dari pemerintah.
Kini, dengan pabrik yang mulai beroperasi, BYD dikabarkan tengah merampungkan tahap akhir persiapan. Sebelumnya pada IIMS 2026, pihak BYD memang sudah mengonfirmasi bahwa pabrik mereka tengah melakukan uji coba produksi (trial production). Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, sempat menegaskan kesiapan fasilitas tersebut. "Fasilitas yang kita miliki ini sudah sangat siap, ter-recognize lengkap secara peralatan untuk memproduksi sebuah kendaraan dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) diharapkan oleh pemerintah," katanya.
Komisioning Ratusan Peralatan dan Target TKDN
Luther menjelaskan bahwa proses manufaktur tidak bisa dilakukan secara instan. Pihaknya harus memastikan setiap unit yang keluar dari pabrik dalam kondisi sempurna. "Memang dalam proses manufaktur itu ada namanya commissioning, alignment. Ini terdiri dari ratusan peralatan yang harus diintegrasikan, setiap roll off wajib presisi, zero error," jelas Luther. Standar presisi ini menjadi kunci agar kualitas mobil rakitan lokal setara dengan versi impor.
Meski produksi sudah berjalan, belum ada pengumuman resmi dari BYD mengenai model apa saja yang sudah dirakit di Subang per Agustus 2026 ini. Namun, harapan besarnya adalah model yang lebih dulu dirakit adalah yang sudah dipasarkan di Indonesia saat ini. Selain lini BYD, merek premium Denza yang baru menawarkan D9 EV juga berpeluang besar untuk dirakit di fasilitas yang sama guna memenuhi regulasi TKDN.
Dampak ke Industri dan Konsumen Indonesia
Mulai beroperasinya pabrik BYD ini bukan sekadar kabar baik bagi pabrikan, tetapi juga bagi industri otomotif nasional secara keseluruhan. Gaikindo meyakini langkah ini akan berkontribusi besar terhadap peningkatan total produksi dalam negeri. Kehadiran pabrik ini juga diharapkan mampu menyerap tenaga kerja lokal dan menggerakkan industri komponen dalam negeri.
Bagi konsumen, produksi lokal berpotensi membuat harga mobil listrik BYD semakin kompetitif di masa mendatang. Namun, hingga ada pengumuman resmi terkait model dan kapasitas produksi, publik masih menunggu detail lebih lanjut dari BYD Motor Indonesia.