Pencarian

Bisnis Otomotif dan Jasa Keuangan Topang Kinerja PT Astra International Tbk Semester I 2026

Rabu, 05 Agustus 2026 • 16:37:00 WIB
Bisnis Otomotif dan Jasa Keuangan Topang Kinerja PT Astra International Tbk Semester I 2026

Kinerja PT Astra International Tbk (Astra) pada semester I 2026 ditopang oleh dua bisnis utama: Otomotif dan Jasa Keuangan. Laba bersih Otomotif naik 9 persen menjadi Rp5,9 triliun, sementara Jasa Keuangan tumbuh 6 persen menjadi Rp4,6 triliun.

Pertumbuhan kedua sektor ini menahan dampak dari pelemahan bisnis Solusi Pertambangan dan Alat Berat sepanjang paruh pertama tahun ini.

Presiden Direktur Astra Rudy mengatakan hasil ini menunjukkan daya tahan Grup Astra di tengah dinamika bisnis. "Pada semester pertama 2026, Grup mencatat peningkatan kontribusi dari bisnis Otomotif dan Jasa Keuangan. Namun, penurunan kontribusi dari bisnis Solusi Pertambangan & Alat Berat mengakibatkan penurunan laba bersih Grup secara keseluruhan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (30/7/2026).

Pendapatan bersih konsolidasian Astra tercatat Rp157,9 triliun, turun 3 persen dibandingkan Rp162,9 triliun pada semester I 2025. Laba bersih sebelum non-recurring items sebesar Rp14,9 triliun, turun 7 persen dari Rp16 triliun, dan setelah pos nonberulang Rp2,4 triliun, laba bersih akhir tercatat Rp12,5 triliun. Laporan ini belum diaudit dan mengacu pada Standar Akuntansi Keuangan Indonesia.

Otomotif: Penjualan Mobil dan Motor Naik

Penjualan mobil nasional tumbuh 16 persen menjadi 437.000 unit sepanjang semester I 2026, dengan penjualan mobil Grup Astra naik 10 persen dan pangsa pasar bertahan di 51 persen. Toyota dan Daihatsu tetap memimpin penjualan mobil nasional.

Sementara itu, penjualan sepeda motor nasional naik 1 persen menjadi 3,1 juta unit, sejalan dengan penjualan motor Honda yang juga tumbuh 1 persen dan pangsa pasar 77 persen. Divisi Komponen mencatat kenaikan kontribusi laba bersih 23 persen menjadi Rp921 miliar.

Di divisi Mobilitas, penjualan mobil bekas naik 4 persen menjadi 15.700 unit, sedangkan kendaraan dalam kontrak bertambah 13 persen menjadi 29.200 unit.

Jasa Keuangan Tumbuh, Lain-lain Ikut Naik

Bisnis Jasa Keuangan mencatat pembiayaan baru senilai Rp61,8 triliun, naik 10 persen, didorong pembiayaan otomotif dan multi-cycle. Divisi pembiayaan sepeda motor menyumbang laba Rp2,4 triliun (+4%), pembiayaan mobil Rp1,2 triliun (+6%), dan pembiayaan alat berat Rp8,1 triliun (+1%) dengan laba Rp130 miliar (+11%). Perusahaan asuransi Astra tumbuh 7 persen menjadi Rp906 miliar.

Segmen Lain-lain yang mencerminkan Wider Businesses Grup naik 31 persen menjadi Rp1,6 triliun, ditopang agribisnis dan properti. Di sisi lain, bisnis Solusi Pertambangan dan Alat Berat anjlok 46 persen menjadi Rp2,7 triliun akibat minimnya penjualan emas Tambang Emas Martabe dan penurunan kuota batu bara lewat RKAB. Martabe sempat berhenti operasi awal 2026 sebelum aktif kembali di kuartal II.

Buyback Rp10 Triliun dan Roadmap Baru

Astra bersama PT United Tractors Tbk (UT) menyiapkan dana hingga Rp10 triliun untuk program buyback saham. "Astra telah mengumumkan program pembelian kembali saham baru hingga Rp8 triliun untuk 12 bulan ke depan, yang telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 17 Juli 2026. Selain itu, UT juga mengumumkan program pembelian kembali saham baru hingga Rp2 triliun untuk tiga bulan ke depan," ujar Rudy.

Program buyback sebelumnya senilai Rp7,4 triliun telah rampung sejak November 2025 hingga Juni 2026. Astra turut menjalankan management share ownership program (MSOP) pada Juli 2026.

Strategi ini sejalan dengan Strategy Roadmap baru Astra yang diumumkan Mei 2026, memfokuskan Grup pada tiga bisnis inti—Otomotif, Jasa Keuangan, serta Solusi Pertambangan dan Alat Berat—berlandaskan empat pilar Focus, Clarity, Discipline, dan Commitment.

"Di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut, kami tetap fokus untuk menjalankan strategi korporasi kami yang baru. Kami yakin terhadap keunggulan operasional, resiliensi dan kekuatan neraca keuangan Astra, yang didukung oleh alokasi modal yang disiplin dalam menghadapi berbagai tantangan bisnis," kata Rudy.

Nilai aset bersih per saham Astra Rp5.763 pada 30 Juni 2026 (naik 1%), sementara ekuitas pemilik entitas induk naik 1 persen menjadi Rp230,1 triliun.

Follow www.okesumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks