MEDAN — Potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai petir dan angin kencang masih membayangi sebagian besar wilayah Sumatera Utara. BMKG melalui Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I mengeluarkan peringatan dini yang berlaku untuk periode sepekan ke depan.
Prakirawan BBMKG Wilayah I, Putri Hafizah, menjelaskan bahwa kombinasi beberapa fenomena atmosfer menjadi pemicu utama tingginya curah hujan di daerah tersebut. "Selain itu, juga akibat kondisi udara cukup labil yang mendukung proses konvektif dan pembentukan awan hujan," kata Putri di Medan, Selasa (4/8/2026).
Bibit Siklon di Samudra Hindia Jadi Pemicu Utama
BMKG mendeteksi adanya bibit siklon yang tumbuh di Samudra Hindia bagian barat Sumatera. Fenomena ini secara tidak langsung membentuk belokan angin atau shearline serta daerah konvergensi yang memanjang dari pantai barat hingga lereng timur Sumatera Utara.
Aktivitas gelombang atmosfer yang masih aktif turut memperkuat potensi pertumbuhan awan konvektif. Kombinasi faktor tersebut membuat kondisi atmosfer menjadi sangat labil, sehingga awan hujan mudah terbentuk dengan intensitas sedang hingga lebat.
Pola Hujan: Cerah di Pagi, Deras di Sore hingga Malam
Pola cuaca harian di Sumatera Utara diprediksi relatif sama. Pada pagi hingga siang hari, kondisi umumnya cerah berawan. Pemanasan permukaan yang maksimal pada rentang waktu tersebut justru menjadi energi bagi pertumbuhan awan hujan.
Awan konvektif tersebut kemudian tumbuh signifikan pada sore hingga malam hari. Akibatnya, hujan deras berdurasi singkat berpotensi terjadi dan dapat disertai sambaran petir serta angin kencang.
Wilayah yang Perlu Waspada Hujan Lebat
BMKG telah memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Masyarakat di kawasan tersebut diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap risiko banjir dan tanah longsor.
Wilayah yang masuk dalam daftar pemantauan meliputi kawasan pantai barat, pegunungan, hingga daerah kepulauan di Sumatera Utara. Kondisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa meskipun sebagian Indonesia memasuki musim kemarau, potensi hujan signifikan tetap ada di wilayah barat.
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca terkini dari kanal resmi dan tidak ragu mengungsi jika lingkungan sekitar menunjukkan tanda-tanda bencana hidrometeorologi.