SUMATERA UTARA — Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, rupiah gagal bertahan di bawah level Rp 18.000. Padahal, pada perdagangan Senin (3/8/2026), mata uang Garuda sempat ditutup menguat 25 poin (0,14%) ke level Rp 17.997 per dolar AS. Level psikologis ini kembali menjadi medan pertempuran utama antara pelaku pasar domestik dan tekanan eksternal.
Dolar AS Bangkit dari Titik Terendah, Tekan Mata Uang Asia
Pelemahan rupiah sejalan dengan pergerakan dolar AS yang memantul dari level terendahnya dalam satu setengah bulan ke posisi 99,98. Penguatan indeks dolar ini secara langsung menekan hampir seluruh mata uang regional, termasuk yen Jepang yang sebelumnya mencatat kenaikan signifikan.
Yen Jepang sedikit melemah 0,1% menjadi 157,35 per dolar AS pada perdagangan awal Asia, setelah pada sesi sebelumnya menyentuh level tertinggi tiga bulan di 155,20. Pergerakan ini terjadi setelah Bank of Japan (BOJ) melakukan intervensi untuk menopang mata uangnya.
Kekhawatiran Intervensi Gabungan Jepang-AS
Dinamika pasar valuta asing saat ini tidak hanya dipicu oleh data ekonomi, tetapi juga oleh spekulasi aksi pemerintah. Tomo Kinoshita, ahli strategi pasar global untuk Jepang di Invesco, menyebutkan bahwa kekhawatiran tentang kemungkinan intervensi lebih lanjut oleh otoritas Jepang dan AS akan membatasi tekanan penurunan pada yen dalam jangka pendek.
"Saya memperkirakan kekhawatiran tentang kemungkinan intervensi lebih lanjut oleh otoritas Jepang dan AS (untuk) membatasi tekanan penurunan pada yen dalam jangka pendek," kata Kinoshita.
Menurutnya, yen kemungkinan akan menguat terhadap dolar AS menjelang akhir tahun ini. Ia menambahkan bahwa agenda kebijakan stimulus PM (Sanae) Takaichi memang telah berkontribusi pada pelemahan yen, namun pasar tampaknya telah memperhitungkan elemen-elemen utama dari kebijakan tersebut.
Pasar Eropa Relatif Tenang di Sesi Asia
Di tengah gejolak mata uang Asia, euro terpantau sedikit berubah di level US$ 1,1511 per dolar AS. Poundsterling Inggris juga bergerak tipis, melemah 0,06% menjadi US$ 1,3427 per dolar AS. Stabilitas mata uang utama Eropa ini kontras dengan volatilitas yang terjadi di kawasan Asia.
Bagi pelaku pasar domestik, pergerakan rupiah hari ini menjadi sinyal bahwa tekanan eksternal masih dominan. Level Rp 18.000 akan menjadi support psikologis yang krusial untuk diperhatikan dalam beberapa sesi ke depan, mengingat sentimen intervensi bank sentral global masih menjadi variabel utama yang diperdagangkan.