MEDAN — Stasiun Perlanaan di Desa Perlanaan, Kecamatan Bandar, Kabupaten Simalungun, kini menjelma menjadi salah satu infrastruktur vital bagi perekonomian Sumatera Utara bagian timur. PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara mencatat pertumbuhan jumlah pelanggan yang konsisten dalam tiga tahun terakhir, seiring menguatnya peran stasiun ini dalam rantai pasok logistik industri.
Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, menyebut posisi stasiun ini strategis karena menghubungkan dua fungsi utama: angkutan penumpang dan angkutan barang. "Stasiun Perlanaan berada di posisi vital yang menghubungkan angkutan penumpang dan logistik industri," ujarnya.
Dua Relasi Utama Layani Mobilitas Harian Warga
Bagi warga Simalungun bagian timur, Stasiun Perlanaan menjadi pintu gerbang menuju sejumlah kota besar. KAI mengoperasikan dua relasi utama dari stasiun ini, yakni KA Putri Deli dan KA Sribilah Utama. Kedua layanan tersebut menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat yang bekerja atau bersekolah di luar daerah.
Pertumbuhan jumlah pelanggan yang mencapai 55.077 orang pada paruh pertama 2026 menunjukkan bahwa moda kereta api semakin diminati. Tren positif ini tercatat berkelanjutan selama tiga tahun terakhir, menandakan pergeseran preferensi warga dari transportasi darat konvensional menuju kereta api yang lebih tepat waktu dan efisien.
Simpul Logistik: Dari CPO hingga Petikemas Menuju Pelabuhan Internasional
Di sektor angkutan barang, Stasiun Perlanaan memegang peran yang tidak kalah penting. Stasiun ini menjadi simpul penggerak distribusi komoditas utama dari KEK Sei Mangkei menuju Pelabuhan Belawan dan Pelabuhan Kuala Tanjung. Komoditas industri yang diangkut melalui KA Petikemas terhubung langsung dengan aktivitas para tenant di kawasan ekonomi khusus tersebut.
Selain petikemas, stasiun ini juga menjadi bagian krusial dalam rantai pasok minyak kelapa sawit mentah (CPO). Stasiun Perlanaan terhubung dengan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Gunung Bayu yang berfungsi sebagai lokasi muat CPO sebelum dikirim ke pelabuhan. Sebaliknya, stasiun ini juga melayani pengangkutan CPO dari pabrik lain menuju KEK Sei Mangkei sebagai bahan baku produksi.
"Melalui layanan komoditas petikemas dan CPO ini, Stasiun Perlanaan secara nyata menghubungkan potensi industri daerah di Simalungun langsung ke pasar global dan pelabuhan internasional," jelas Anwar.
Mengapa Stasiun Ini Krusial bagi Roda Ekonomi Sumut?
Keberadaan Stasiun Perlanaan tidak bisa dilepaskan dari ekosistem industri kelapa sawit yang menjadi penopang utama perekonomian Sumatera Utara. Dengan kapasitas mengangkut CPO dalam jumlah besar, stasiun ini membantu menekan biaya logistik yang selama ini menjadi beban berat bagi para pengusaha perkebunan.
Konektivitas langsung menuju dua pelabuhan utama memberikan nilai tambah tersendiri. Pengusaha tidak perlu lagi menempuh jalur darat yang panjang dan rawan keterlambatan. Efisiensi ini pada akhirnya berdampak pada daya saing produk kelapa sawit Indonesia di pasar internasional.
Dengan pertumbuhan penumpang yang stabil dan peran logistik yang semakin strategis, Stasiun Perlanaan diproyeksikan akan terus menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi di wilayah timur Sumatera Utara. KAI Divre I Sumut dipastikan akan terus mengoptimalkan peran stasiun ini seiring meningkatnya permintaan layanan baik dari masyarakat maupun sektor industri.