Pemkab Tapsel Serap 231,37 Ton Gabah Petani Usai Bencana, 1.380 Hektare Sawah Masih Rusak

Penulis: Zulfahmi Rasyid  •  Senin, 10 Agustus 2026 | 13:08:01 WIB
Kepala Dinas Pertanian Tapsel Taufik Batubara menyampaikan realisasi penyerapan gabah petani di Aek Badak Julu mencapai 84.000 kilogram.

TAPANULI SELATAN — Dinas Pertanian Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, mencatat penyerapan gabah petani mencapai 231,37 ton sepanjang Januari hingga Juni 2026. Angka ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah menjaga stabilitas ketahanan pangan di tengah masa pemulihan lahan pertanian pascabencana.

Kepala Dinas Pertanian Tapsel Taufik Batubara mengungkapkan, gabah yang terserap berasal dari tiga kecamatan, yaitu Batang Angkola, Angkola Timur, dan Sayurmatinggi. Pihaknya terus berkoordinasi dengan Bulog dan instansi terkait agar proses penyerapan hasil panen petani tidak terhambat.

Empat Titik Penyerapan Terbesar di Wilayah Tapsel

Realisasi penyerapan gabah terbesar terjadi di Aek Badak Julu dengan total 84.000 kilogram. Disusul Aek Nauli yang mencapai 77.000 kilogram, kemudian Kelurahan Pintu Padang II sebanyak 62.487 kilogram, dan Pargarutan Julu sebesar 7.890 kilogram.

“Penyerapan gabah dilakukan dari Januari hingga Juni 2026. Kami terus berkoordinasi dengan Bulog dan pihak terkait agar penyerapan gabah petani tetap berjalan,” kata Taufik di Tapsel, Senin.

Kerusakan Lahan Masih Menjadi Kendala Utama Produksi

Meski serapan berjalan, produksi padi lokal masih menghadapi tekanan akibat kerusakan lahan yang cukup luas. Berdasarkan hasil asesmen, sekitar 1.380,5 hektare sawah di wilayah tersebut mengalami kerusakan pascabencana.

Sejumlah sentra produksi di Sipirok, Batang Angkola, dan Sayurmatinggi masih dalam proses reklamasi. Sementara itu, sebagian areal pertanian di Batang Toru masih tertimbun material pasir sehingga belum memungkinkan untuk ditanami kembali.

“Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap produksi padi dan mengurangi potensi gabah lokal yang dapat diserap,” ujarnya.

Kadar Air dan Cuaca Jadi Tantangan Petani

Selain persoalan lahan, kualitas gabah juga menjadi perhatian. Sebagian petani masih mengandalkan penjemuran secara konvensional yang sangat bergantung pada kondisi cuaca. Hal ini memengaruhi kadar air gabah yang menjadi salah satu syarat penyerapan oleh Bulog.

Pemerintah kabupaten berharap proses reklamasi lahan dapat segera tuntas agar produktivitas pertanian kembali pulih dan serapan gabah pada periode berikutnya bisa meningkat signifikan.

Reporter: Zulfahmi Rasyid
Sumber: sumut.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top