SUMUT — Tim SMART Patrol dari Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) bersama Yayasan Orangutan Sumatra Lestari (YOSL) menemukan keberadaan orangutan di luar peta distribusi yang selama ini menjadi acuan. Temuan ini membuka fakta baru bahwa upaya konservasi yang selama ini terfokus pada taman nasional dan suaka margasatwa tidak lagi cukup.
Hasil survei menunjukkan sebagian habitat orangutan tersebar di Areal Penggunaan Lain (APL), kawasan konsesi, hutan produksi, hingga kawasan yang belum memiliki status perlindungan khusus. YOSL-OIC menilai pendekatan konservasi perlu diperluas dari sekadar melindungi kawasan menjadi melindungi lanskap yang secara ekologis masih menopang kehidupan orangutan.
"Orangutan tidak mengenal batas administrasi maupun batas fungsi kawasan. Konservasi harus mengikuti logika ekologi, bukan logika administrasi," jelas Indra, perwakilan YOSL-OIC.
Pendekatan konservasi lanskap ini mencakup penguatan perlindungan habitat, patroli dan penegakan hukum, pembangunan koridor ekologis, restorasi habitat, mitigasi konflik manusia-orangutan, monitoring jangka panjang, serta kolaborasi multipihak antara pemerintah, dunia usaha, masyarakat, organisasi konservasi, dan akademisi.
Temuan survei ini dinilai relevan dengan pengembangan kebijakan Areal Preservasi. Menurut YOSL-OIC, hasil survei memberikan dasar ilmiah bahwa terdapat habitat bernilai konservasi tinggi di luar kawasan konservasi resmi. Sebagian habitat tersebut berada pada APL, HGU, maupun kawasan produksi yang tetap memiliki fungsi ekologis penting bagi orangutan.
Dalam konteks tersebut, Areal Preservasi dapat menjadi salah satu instrumen untuk mempertahankan fungsi ekologis habitat penting tanpa harus mengubah seluruh status kawasan secara formal.
Hasil survei populasi orangutan di Sumatra yang dilaksanakan Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) pada 2021-2023 mengungkap kondisi yang memprihatinkan. Populasi orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang sangat langka di Batang Toru tercatat tinggal sekitar 716 hingga 800 individu.
Kajian itu juga menemukan perubahan struktur hutan dan kepadatan penduduk sebagai faktor paling berpengaruh terhadap kepadatan populasi orangutan. Kehilangan tutupan hutan turut menjelaskan sebagian besar perubahan populasi di sejumlah bentang alam.
YOSL-OIC merekomendasikan pembaruan peta distribusi orangutan dan memasukkan habitat-habitat baru ke dalam basis data nasional. Perlindungan di lokasi-lokasi yang telah teridentifikasi perlu ditingkatkan, termasuk pembangunan koridor ekologis yang menghubungkan kantong-kantong populasi.
Dalam jangka pendek, habitat penting perlu diintegrasikan ke dalam dokumen perencanaan daerah seperti RTRW dan RPJMD. Strategi konservasi orangutan nasional juga perlu terus diperbarui berdasarkan bukti ilmiah terbaru.
"Jika data ilmiah menunjukkan bahwa orangutan masih bertahan di luar kawasan konservasi, maka kebijakan konservasi juga harus berkembang. Areal Preservasi memberi peluang untuk memastikan habitat-habitat penting tersebut tetap terlindungi melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, masyarakat, organisasi konservasi, dan akademisi," pungkas Indra.