MEDAN — Sebuah lokomotif uap tua berdiri kokoh di kawasan Stasiun Medan, menyimpan memori panjang tentang bagaimana jalur kereta api pernah menjadi urat nadi ekonomi Sumatera Utara. Lokomotif bertipe DSM 38 itu bukan sekadar pajangan, melainkan saksi sejarah yang telah beroperasi selama lebih dari enam dekade sebelum akhirnya dipensiunkan pada 1977.
Manager Humas KAI Divre I Sumut Anwar Yuli Prastyo menegaskan bahwa keberadaan lokomotif ini merepresentasikan perjalanan panjang transportasi kereta api dalam membangun konektivitas wilayah serta mendorong pertumbuhan ekonomi Sumut sejak awal abad ke-20.
Lokomotif DSM 38 merupakan peninggalan Deli Spoorweg Maatschappij (DSM), perusahaan kereta api swasta yang dibangun pada era Hindia Belanda. Perusahaan ini berperan penting dalam membangun jaringan rel pertama di Sumatera bagian timur, yang difokuskan untuk mengangkut hasil perkebunan dan melayani penumpang.
Berdasarkan catatan sejarah, lokomotif ini diproduksi oleh Sächsische Maschinenfabrik vorm. Richard Hartmann AG dari Chemnitz, Jerman, pada 1913. Setahun kemudian, tepatnya 1914, lokomotif ini mulai beroperasi di Sumatera Utara.
Selama masa operasinya yang panjang, lokomotif ini melayani berbagai lintas penting, di antaranya Medan-Tebing Tinggi, Medan-Kisaran, dan Medan-Tanjungbalai. Rute-rute ini menjadi tulang punggung distribusi hasil perkebunan sekaligus mobilitas penumpang di wilayah tersebut.
Anwar menjelaskan, DSM 38 menjadi salah satu warisan sejarah perkeretaapian tertua yang masih dapat disaksikan masyarakat di Sumut. Keberadaannya memperkaya nilai edukasi sekaligus memperkuat identitas heritage Stasiun Medan.
"Lokomotif DSM 38 menjadi simbol perkembangan perkeretaapian di Sumatera Utara. Kehadirannya mengingatkan bahwa kereta api telah berkontribusi dalam membuka konektivitas antarwilayah, mendukung distribusi hasil perkebunan, dan menggerakkan perekonomian daerah selama lebih dari satu abad," ujar Anwar.
"Monumen ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melihat secara langsung perjalanan perkembangan teknologi perkeretaapian. Kami berharap generasi muda semakin mengenal sejarah perkeretaapian nasional melalui peninggalan yang masih terawat dengan baik," katanya pula.
Seiring revitalisasi Stasiun Medan dalam beberapa tahun terakhir, monumen bersejarah ini tetap dipertahankan sebagai bagian dari kawasan heritage stasiun sekaligus landmark Kota Medan. Namun, bagi masyarakat yang ingin mengabadikan momen di lokasi, perlu bersabar terlebih dahulu.
Anwar menyampaikan bahwa saat ini area di sekitar monumen masih dalam tahap penataan. Hal ini dilakukan demi alasan keamanan dan kenyamanan bersama bagi para calon penumpang maupun pengunjung.
"Saat ini Stasiun Medan sedang dalam tahap penataan kawasan, termasuk di area sekitar monumen lokomotif. Oleh karena itu, masyarakat untuk sementara waktu belum bisa melakukan swafoto di lokasi tersebut hingga seluruh proses penataan selesai," kata Anwar.
Menariknya, Monumen Lokomotif DSM 38 merupakan satu-satunya monumen lokomotif uap yang dipajang secara permanen di kawasan stasiun aktif di Sumatera Utara. Meskipun hingga kini belum ditetapkan sebagai objek cagar budaya, nilai historisnya diakui sangat tinggi bagi perkembangan perkeretaapian di Pulau Sumatera.
KAI berkomitmen menjaga dan melestarikan aset heritage perkeretaapian sebagai warisan sejarah bangsa. Harapannya, Stasiun Medan ke depan dapat menjadi salah satu destinasi wisata heritage yang membanggakan Sumatera Utara.