MEDAN — Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) Sumatera Utara mencatat dampak kerusakan signifikan pasca cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Deliserdang. Dari total 61 rumah yang rusak, lima di antaranya mengalami kerusakan berat dan tidak layak huni sementara.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumut, Sri Wahyuni, mengungkapkan bahwa angin kencang dan hujan deras yang terjadi pada Rabu (5/7) lalu menjadi penyebab utama bencana ini. Pihaknya telah menerima laporan lengkap dari lapangan pada Kamis (6/7).
Data Pusdalops menunjukkan sebaran kerusakan yang tidak merata di tujuh kecamatan terdampak. Kecamatan Pagar Merbau mencatatkan jumlah kerusakan tertinggi dengan 19 unit rumah, menjadikannya episentrum kerusakan paling parah.
Kecamatan Percut Sei Tuan menyusul dengan 16 rumah rusak, sementara Kecamatan Pantai Labu mencatat 12 unit. Adapun Kecamatan Beringin mengalami kerusakan pada 11 rumah, dan tiga kecamatan lainnya masing-masing melaporkan satu rumah rusak: Lubuk Pakam, Biru-Biru, dan Gunung Meriah.
Dari total kerusakan yang dilaporkan, BPBD Sumut mengklasifikasikan tingkat kerusakan menjadi tiga kategori. Sebanyak lima rumah dinyatakan rusak berat, 11 rumah mengalami rusak sedang, dan 45 rumah lainnya masuk kategori rusak ringan.
Meski kerusakan fisik cukup masif, Sri Wahyuni memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam kejadian ini. "Jumlah korban luka maupun korban jiwa nihil. Sedangkan pengungsi tercatat lima jiwa," kata Sri Wahyuni di Medan, Kamis.
Pasca kejadian, pemerintah setempat langsung bergerak melakukan asesmen dan peninjauan ke lokasi-lokasi terdampak. Koordinasi intensif dilakukan antara pemerintah kabupaten dengan pemerintah kecamatan untuk memastikan pendataan berjalan akurat.
BPBD Sumut juga telah berkoordinasi dengan pihak terkait dalam hal penanganan bencana di lokasi. "Kondisi terkini dalam penanganan pemerintah setempat," ujar Sri Wahyuni menegaskan bahwa proses pemulihan kini menjadi prioritas utama bagi warga terdampak.