SUMATERA UTARA — JAKARTA — Strategi transformasi jangka panjang Telkom Indonesia mulai menuai hasil. Sepanjang Januari–Juni 2026, emiten berkode saham TLKM ini mencatat laba bersih Rp10,6 triliun, naik 1,4 persen secara tahunan. Angka ini lebih tinggi jika dihitung dari laba normalisasi yang mencapai Rp11,3 triliun, tumbuh 6,2 persen, dengan margin 14,9 persen.
EBITDA perusahaan ikut menguat 3,8 persen menjadi Rp37,5 triliun dengan margin 49,4 persen. Arus kas operasional pun solid di angka Rp34,9 triliun, naik 7 persen, berkat efisiensi biaya yang terus dijalankan manajemen.
Pemulihan segmen seluler menjadi penopang utama kinerja perusahaan. Melalui Telkomsel, pendapatan bisnis konsumer (B2C) mencapai Rp55,6 triliun, tumbuh 3,3 persen secara tahunan. Konsumsi data masyarakat meningkat signifikan, terutama saat liburan sekolah dan momentum Piala Dunia yang mendorong kebutuhan layanan digital.
Strategi komersial yang fokus pada optimalisasi produk dan pengelolaan nilai pelanggan berhasil menaikkan pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) mobile menjadi Rp45.600, tumbuh 9 persen dibanding tahun lalu. "Komitmen kami dalam mengakselerasi transformasi digital melalui strategi TLKM 30 tercermin dari pertumbuhan yang berhasil kami capai," ujar Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, dalam keterangan resminya.
Di sektor fixed broadband, Telkomsel justru melakukan penataan basis pelanggan IndiHome. Jumlah pelanggan turun dari 10,1 juta menjadi 9,5 juta, namun ARPU kuartalan naik 3,4 persen menjadi Rp211 ribu. Rasio konvergensi layanan juga meningkat ke angka 65 persen, menandakan semakin banyak pelanggan yang menggunakan paket terintegrasi.
Manajemen menilai langkah ini penting untuk keberlanjutan bisnis jangka panjang ketimbang mengejar jumlah pelanggan semata.
Segmen B2B Infrastructure melonjak 19 persen menjadi Rp33,1 triliun, ditopang meningkatnya permintaan layanan data, internet, dan teknologi informasi. Anak usaha menara, Mitratel, membukukan pendapatan Rp4,7 triliun dengan jumlah tenant 63.866, naik 4,9 persen. Rasio penyewaan menara kini mencapai 1,57 kali.
Telkom juga memperkuat bisnis pusat data melalui NeutraDC sebagai bagian dari ambisi menjadi pemain infrastruktur digital regional. Konsolidasi aset data center TelkomGroup terus diarahkan untuk optimalisasi dan layanan berbasis kebutuhan teknologi masa depan.
Di balik pertumbuhan itu, Telkom gencar membenahi internal. Sepuluh entitas telah disederhanakan melalui skema divestasi, merger, maupun likuidasi. Belanja modal semester pertama mencapai Rp10,8 triliun, dengan 96 persen dialokasikan ke bisnis prioritas: B2C, B2B Infrastructure, dan International Business.
Dian menegaskan kebutuhan infrastruktur digital akan terus meningkat seiring perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan. "Pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan akan sangat ditentukan oleh kekuatan infrastruktur digital yang kita bangun hari ini," katanya. Sebagai bagian dari Danantara Indonesia, Telkom berkomitmen mempercepat investasi kapabilitas digital untuk menciptakan nilai berkelanjutan bagi pemangku kepentingan.