Corus International memfasilitasi puluhan pelaku UMKM dan kelompok tani binaan di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, untuk bertemu langsung dengan calon pembeli potensial dari luar daerah melalui kegiatan business matching di Kabanjahe. Kegiatan itu merupakan bagian dari rangkaian pendampingan program MECIO yang menyasar empat desa binaan di Karo. Selain akses pasar, pelaku usaha juga difasilitasi untuk mengakses pembiayaan perbankan.
KABANJAHE — Program Manager Corus International, Handaru Suryo Putro, menyatakan kegiatan business matching digelar untuk menjembatani pelaku usaha dengan pembeli potensial dari luar Kabupaten Karo. Pendampingan lewat program MECIO menyasar empat desa binaan, kelompok tani, serta UMKM di wilayah tersebut.
Pendampingan tidak berhenti pada pengembangan produk. Corus International juga mendorong agar produk yang dihasilkan kelompok tani dan UMKM bisa dipasarkan lebih luas.
Handaru menyebut persoalan utama muncul setelah pelaku usaha berhasil meningkatkan kualitas produk mereka. Keterbatasan akses pasar menjadi kendala berikutnya.
"Di titik itu ada gap, bagaimana teman-teman ini memasarkan produknya lebih luas lagi. Business matching ini adalah bagian dari itu, bagaimana kita memfasilitasi teman-teman UMKM dan kelompok tani agar dapat memasarkan produknya langsung kepada buyer-buyer potensial dari luar Kabupaten Karo," ujarnya.
Corus International menggandeng sejumlah organisasi perangkat daerah Pemkab Karo dalam kegiatan tersebut. Dinas Pertanian, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, sektor UMKM, serta Ketahanan Pangan terlibat menyiapkan pelaku usaha binaan.
Berbagai produk binaan dihimpun dalam satu katalog yang diperkenalkan kepada calon pembeli. Salah satu produk yang didorong mendapat akses pasar lebih luas adalah Batik Karo.
Produk tersebut diharapkan membuka peluang kerja sama dengan perbankan maupun organisasi perangkat daerah di Kabupaten Karo.
Selain mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli, Corus International memberi perhatian pada akses pembiayaan. Lembaga perbankan dilibatkan dalam rangkaian program, termasuk Bank Indonesia dan sejumlah bank swasta.
"Konteks kita sebenarnya memwadahi. Sebelum mereka bertemu dengan perbankan, kita sudah memfasilitasi dan mengkapasitasi mereka agar mereka siap untuk bankable," kata Handaru.
Program seed capital juga dijalankan bagi sejumlah UMKM di desa binaan, antara lain Desa Raya, Desa Ergaji, dan Desa Dokan. Dukungan diberikan sekitar Rp2 juta hingga Rp2,5 juta untuk setiap UMKM dalam bentuk barang atau produk produktif, bukan uang tunai.
Bantuan itu diarahkan untuk pengembangan usaha, termasuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk. Pelaksanaannya menggandeng koperasi kredit (Credit Union) setempat.
Keterlibatan perempuan menjadi perhatian tersendiri dalam program pendampingan Corus International.
"Secara kuantitas, kami lebih menekankan unsur perempuan lebih banyak sebagai penerima manfaat kegiatan kami. Kami memiliki standar sasaran sekitar 70 persen ke atas adalah perempuan, baik petani perempuan maupun UMKM perempuan," ujar Handaru.
Melalui rangkaian pendampingan tersebut, Corus International berharap UMKM dan kelompok tani binaan tidak hanya mampu menghasilkan produk berkualitas. Akses pasar dan pembiayaan yang lebih luas diharapkan membuat usaha mereka berkembang secara berkelanjutan.