MEDAN — Bapperida Sumatera Utara menggelar Focus Group Discussion bertajuk Strategi Mobilisasi Pendanaan Alternatif untuk Implementasi PRKBI di Medan. Forum itu menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan untuk membahas sumber dana di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Keterbatasan anggaran menjadi alasan utama pencarian skema pembiayaan baru. Program Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim disebut membutuhkan dana besar agar bisa berjalan berkelanjutan.
Diskusi menyoroti sejumlah kanal pembiayaan yang berpotensi menutup celah anggaran. Setiap opsi memiliki karakter dan konsekuensi berbeda bagi pemda.
Program PRKBI menuntut pembiayaan jangka panjang, sementara ruang fiskal daerah terbatas. Pemerintah provinsi pun mencari sumber dana yang tidak membebani pos belanja rutin.
Pendekatan campuran antarskema dinilai lebih realistis ketimbang mengandalkan satu sumber tunggal. Setiap kanal punya syarat, tenor, dan tingkat risiko yang berbeda.
Hasil FGD akan menjadi bahan penyusunan strategi mobilisasi pendanaan yang lebih rinci. Bapperida Sumut belum mengumumkan jadwal penetapan skema maupun target nominal pembiayaan.
Keberlanjutan PRKBI bergantung pada seberapa cepat skema alternatif ini bisa dieksekusi. Tanpa terobosan pendanaan, sejumlah program rendah karbon berpotensi berjalan lambat.